Lifestyle

Sindrom Kekurangan Energi Relatif (RED-S) dalam Olahraga dan Dampaknya

22 Jan 2026

avatar

Pinky

Bagikan Blog

Sindrom Kekurangan Energi Relatif (RED-S) dalam Olahraga dan Dampaknya

Banyak orang rela menambah durasi workout, mengurangi porsi makan, atau bahkan menahan lapar demi tubuh yang lebih ramping atau performa yang lebih tinggi.

Masalahnya, pola seperti ini bisa mengarah pada kondisi serius yang dikenal sebagai sindrom kekurangan energi relatif atau Relative Energy Deficiency in Sport (RED-S).

RED-S terjadi ketika tubuh berada dalam kondisi kurang energi secara kronis. Artinya, kalori yang masuk dari makanan tidak cukup untuk menutupi kebutuhan tubuh, baik untuk aktivitas fisik maupun fungsi biologis dasar seperti metabolisme, hormon, dan pemulihan jaringan.

Kondisi ini tidak hanya menyerang atlet profesional, tapi juga orang yang rajin olahraga, pelari amatir, pecinta gym, sampai mereka yang sedang diet ketat.

Kalau dibiarkan, sindrom ini bisa memicu berbagai efek negatif yang sering kali tidak disadari di awal. Berikut ini penjelasan serta daftar lengkap efek buruk sindrom kekurangan energi relatif dalam olahraga yang penting untuk kamu pahami.

Apa Itu Sindrom Kekurangan Energi Relatif atau (RED-S)?

17004.jpg Melansir Boston Children’s Hospital, sindrom kekurangan energi relatif atau Relative Energy Deficiency in Sport (REDs) adalah penurunan performa atletik yang terjadi ketika atlet atau seseorang yang rajin berolahraga tidak mendapatkan cukup bahan bakar melalui makanan untuk mendukung kebutuhan energi kehidupan sehari-hari dan latihan mereka.

Ketersediaan energi yang rendah bisa terjadi setelah latihan yang sangat berat. Dengan istirahat dan makanan bergizi dapat mengisi kembali cadangan energi.

Namun, jika terus memaksakan diri tanpa mengisi kembali energi, seiring waktu hal itu akan berdampak buruk pada daya tahan, kekuatan, dan kesehatan.

Efek Buruk Relative Energy Deficiency in Sport (RED-S)

Keadaan ini harus segera diatasi karena dapat berpengaruh pada semua sistem tubuh. Inilah beberapa efek buruk jika mengalami Relative Energy Deficiency in Sport (RED-S):

1. Penurunan Performa Fisik

Efek yang paling cepat terasa dari kondisi kurang energi adalah turunnya performa. Kamu mungkin merasa latihan terasa lebih berat, napas cepat habis, dan otot terasa lemah padahal intensitas latihan tidak berubah.

Saat tubuh kekurangan kalori, cadangan glikogen di otot dan hati menjadi menipis. Glikogen adalah bahan bakar utama untuk olahraga intensitas sedang hingga tinggi.

Ketika stok ini habis, tubuh tidak punya cukup “bensin” untuk bergerak optimal. Hasilnya, kecepatan menurun, kekuatan berkurang, dan daya tahan jadi lebih pendek.

Bahkan, banyak orang dengan RED-S merasa progres mereka “mandek” meski sudah latihan lebih keras. Ini adalah paradoks klasik dari kondisi kurang energi.

2. Pemulihan Otot yang Lambat

Tubuh membutuhkan energi untuk memperbaiki jaringan otot yang rusak akibat latihan. Jika asupan kalori dan nutrisi tidak mencukupi, proses pemulihan akan terganggu.

Dalam kondisi kurang energi, tubuh memprioritaskan fungsi vital seperti jantung dan otak, sementara pemulihan otot menjadi nomor sekian. Akibatnya:

  • Nyeri otot bertahan lebih lama
  • Cedera kecil sulit sembuh
  • Risiko overtraining meningkat

Ini membuat kamu semakin rentan mengalami penurunan performa jangka panjang.

3. Risiko Cedera yang Lebih Tinggi

Sindrom kekurangan energi relatif juga berkaitan erat dengan meningkatnya risiko cedera, terutama cedera akibat stres berulang seperti stress fracture (retak tulang kecil) atau radang tendon.

Saat tubuh kekurangan energi dan nutrisi penting, kepadatan tulang bisa menurun. Otot dan ligamen juga menjadi lebih lemah. Kombinasi ini membuat sistem muskuloskeletal tidak mampu menahan beban latihan dengan baik.

Pada atlet dan pecinta olahraga, ini bisa berujung pada:

  • Cedera yang sering kambuh
  • Waktu istirahat lebih lama
  • Penurunan konsistensi latihan

4. Gangguan Sistem Hormon

Salah satu efek paling serius dari kondisi kurang energi adalah gangguan hormon. Tubuh sangat sensitif terhadap defisit energi, dan saat kalori tidak mencukupi, produksi hormon penting akan terganggu.

Pada wanita, ini bisa menyebabkan:

  • Menstruasi tidak teratur
  • Bahkan berhenti sama sekali (amenore)

Pada pria, bisa terjadi:

  • Penurunan kadar testosteron
  • Penurunan massa otot
  • Libido menurun

Gangguan hormon ini tidak hanya berdampak pada performa olahraga, tapi juga kesehatan jangka panjang seperti kesuburan dan kesehatan tulang.

5. Sistem Imun Menurun

Tubuh yang terus-menerus berada dalam kondisi kurang energi cenderung memiliki sistem imun yang lebih lemah. Kamu mungkin jadi lebih mudah terserang flu, infeksi saluran pernapasan, atau penyakit ringan lainnya.

Energi dibutuhkan untuk memproduksi sel imun dan antibodi. Jika asupan kalori terlalu rendah, tubuh akan “menghemat” energi dengan mengurangi aktivitas sistem pertahanan.

Akibatnya, daya tahan tubuh turun dan proses penyembuhan melambat.

6. Gangguan Metabolisme

Banyak orang berpikir makan lebih sedikit akan mempercepat penurunan berat badan. Padahal, dalam jangka panjang, kondisi kurang energi justru bisa membuat metabolisme melambat.

Tubuh memiliki mekanisme bertahan hidup. Ketika kalori masuk terlalu rendah, metabolisme akan diturunkan untuk menghemat energi. Ini menyebabkan:

  • Pembakaran kalori harian menurun
  • Lemak lebih sulit dibakar
  • Berat badan bisa stagnan atau bahkan naik

Ironisnya, diet terlalu ketat justru bisa membuat tujuan tubuh ideal semakin sulit tercapai.

7. Masalah Kesehatan Mental

RED-S tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga mental. Kekurangan energi kronis bisa memengaruhi keseimbangan neurotransmitter di otak.

Beberapa efek yang sering muncul antara lain:

  • Mudah cemas
  • Mood swing
  • Depresi ringan
  • Sulit fokus

Selain itu, orang dengan sindrom kekurangan energi relatif juga sering terjebak dalam pola pikir obsesif terhadap makanan dan olahraga yang bisa mengarah ke gangguan makan.

8. Kualitas Tidur Memburuk

Tubuh membutuhkan energi untuk mengatur ritme tidur dan produksi hormon melatonin. Saat kamu berada dalam kondisi kurang energi, kualitas tidur bisa terganggu. Kamu mungkin:

  • Sulit tidur
  • Sering terbangun di malam hari
  • Bangun dalam kondisi tidak segar

Padahal, tidur adalah kunci utama pemulihan dan pertumbuhan otot. Kurang tidur ditambah defisit energi adalah kombinasi yang sangat merugikan.

9. Penurunan Kepadatan Tulang

Dalam jangka panjang, sindrom kekurangan energi relatif bisa menyebabkan penurunan kepadatan mineral tulang. Ini meningkatkan risiko osteoporosis dan patah tulang, bahkan di usia muda.

Tanpa energi dan nutrisi yang cukup, tubuh tidak mampu mempertahankan jaringan tulang secara optimal. Dampaknya bisa bertahan hingga bertahun-tahun, bahkan setelah pola makan diperbaiki.

10. Penurunan Kualitas Hidup

Jika semua efek di atas digabungkan, kualitas hidup secara keseluruhan bisa menurun. Tubuh terasa lelah, pikiran tidak fokus, emosi tidak stabil, dan olahraga yang seharusnya menyenangkan justru terasa seperti beban.

Banyak orang baru menyadari mereka mengalami sindrom kekurangan energi relatif ketika sudah mengalami cedera berulang atau gangguan kesehatan yang cukup serius.

Kesimpulan

Sindrom kekurangan energi relatif adalah masalah nyata yang sering terjadi pada orang yang aktif berolahraga atau sedang menjalani diet ketat.

Kondisi kurang energi tidak hanya menghambat performa, tetapi juga bisa merusak kesehatan tubuh dari berbagai sisi, mulai dari hormon, tulang, hingga kesehatan mental.

Kunci utama untuk menghindarinya adalah memastikan bahwa energi yang masuk seimbang dengan energi yang kamu keluarkan.

Makan cukup, tidur cukup, dan memberi tubuh waktu untuk pulih bukanlah tanda kemalasan, melainkan bagian dari strategi olahraga yang cerdas.

Kalau tujuanmu adalah tubuh yang kuat, sehat, dan endurance yang baik, pastikan kamu tidak terjebak dalam siklus kurang energi yang justru menjauhkanmu dari hasil terbaik.

Nah, supaya latihanmu tetap terjaga, tak ada salahnya meminta bantuan personal trainer yang akan membuatkan menu latihan yang cocok buatmu.

Personal trainer di FIT HUB semuanya profesional dan akan membantumu mencapai tujuan kebugaranmu.

Penasaran? Yuk, gabung jadi member FIT HUB sekarang juga!

Blog Terkait

Membership

Personal Trainer

Kelas

Blog

Jadwal Kelas

Lokasi Klub

Fasilitas

Tentang Kami

Karir

Syarat & Ketentuan

Kebijakan Privasi

FAQs

Brand Partnership

Corporate Membership

[email protected]

[email protected]

[email protected]

Layanan Pengaduan Konsumen