Tips

Stretch Shortening Cycle: Arti, Mekanisme, dan Latihan

22 Oct 2026

avatar

Pinky

Bagikan Blog

Stretch Shortening Cycle: Arti, Mekanisme, dan Latihan

Key Takeaways:

  • Stretch shortening cycle (SSC) adalah mekanisme ketika otot memanjang sebelum memendek kembali untuk membantu menghasilkan gaya saat melakukan gerakan eksplosif, seperti melompat dan sprint.
  • SSC terdiri dari tiga fase: eksentrik, transisi, dan konsentrik, dengan peran energi elastis pada otot dan tendon.
  • Electromechanical delay (EMD) adalah jeda antara aktivasi listrik otot dan munculnya gaya mekanis.

Stretch shortening cycle (SSC) adalah mekanisme tubuh yang membantu menghasilkan gaya saat melakukan gerakan eksplosif, seperti melompat dan sprint.

Mekanisme ini memanfaatkan peregangan otot sebelum kontraksi untuk membantu menghasilkan gerakan berikutnya dengan lebih efektif melalui interaksi antara otot, tendon, dan sistem saraf.

Contohnya, saat kamu menekuk lutut sebelum melompat, tubuh mempersiapkan otot dan tendon untuk menghasilkan dorongan ketika kaki lurus kembali. Pelajari selengkapnya dalam pembahasan di bawah ini.

Apa Itu Stretch Shortening Cycle?

5123.jpg Stretch shortening cycle merupakan rangkaian gerakan ketika otot memanjang saat menghasilkan gaya, kemudian segera memendek untuk menghasilkan gerakan berikutnya.

Mekanisme ini sering dijelaskan seperti pegas yang menyimpan energi saat ditekan, lalu melepaskannya ketika kembali ke bentuk semula.

SSC terjadi dalam berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari berjalan dan berlari hingga melompat dan mengubah arah gerakan. Dalam olahraga, mekanisme ini penting karena dapat membantu tubuh menghasilkan gaya dan tenaga secara lebih efektif.

Salah satu contohnya, dikutip dari Science for Sport, adalah countermovement jump, yaitu lompatan yang diawali dengan gerakan menurunkan tubuh sebelum melompat ke atas.

Gerakan awalan ini memungkinkan penggunaan SSC, berbeda dari squat jump yang dimulai dari posisi jongkok diam tanpa gerakan turun sebelumnya.

Bagaimana Mekanisme Stretch Shortening Cycle Bekerja?

SSC terdiri dari tiga fase utama, yaitu fase eksentrik, fase transisi, dan fase konsentrik. Ketiganya bekerja secara berurutan untuk membantu tubuh menyerap gaya, mempersiapkan kontraksi, dan menghasilkan gerakan.

1. Fase eksentrik

Fase eksentrik terjadi ketika otot menghasilkan gaya sambil memanjang. Contohnya ketika kamu turun setelah melompat, otot kaki bekerja untuk mengendalikan gerakan tersebut, sementara tendon akan menerima tegangan.

Pada fase ini, energi elastis dapat tersimpan dalam jaringan elastis, terutama tendon. Otot juga mulai mempersiapkan tubuh untuk menghasilkan gaya pada fase berikutnya.

2. Fase transisi

Fase transisi, yang juga dikenal sebagai fase amortisasi, merupakan jeda singkat antara gerakan memanjang dan memendeknya otot. Pada lompatan, fase ini terjadi ketika tubuh beralih dari posisi terendah menuju dorongan ke atas.

Transisi yang cepat dapat membantu mempertahankan pemanfaatan energi elastis yang tersimpan. Sebaliknya, jika jeda terlalu lama, sebagian energi tersebut dapat terdisipasi sehingga kontribusinya terhadap gerakan berikutnya berkurang.

3. Fase konsentrik

Fase konsentrik terjadi ketika otot memendek sambil menghasilkan gaya untuk menggerakkan tubuh. Saat melompat, fase ini terlihat ketika kamu mendorong lantai hingga tubuh terangkat ke udara.

Energi elastis yang tersimpan pada fase sebelumnya dapat membantu dorongan tersebut bersama gaya yang dihasilkan oleh kontraksi otot. Kombinasi keduanya mendukung gerakan eksplosif, meskipun kontribusi masing-masing mekanisme bergantung pada jenis gerakan dan kondisi tubuh.

dummy

Temukan inspirasi sehatmu dan wujudkan dengan latihan di FIT HUB!

Klaim Gratis Free Trial 7 Hari

Peran Energi Elastis pada Otot dan Tendon

Tendon merupakan jaringan yang menghubungkan otot dengan tulang dan memiliki sifat elastis. Ketika menerima tegangan selama gerakan, tendon dapat mengalami deformasi dan menyimpan energi yang kemudian dilepaskan saat kembali ke bentuk semula.

Kamu bisa membayangkan proses ini seperti karet yang diregangkan lalu dilepaskan. Namun, tubuh bukan sekadar pegas pasif karena otot tetap harus aktif menghasilkan gaya dan mengendalikan gerakan.

Kemampuan memanfaatkan energi elastis berperan dalam aktivitas seperti sprint dan lompatan berulang. Dalam berlari, misalnya, otot dan tendon tungkai membantu menyerap beban saat kaki menyentuh tanah, lalu mendukung dorongan ketika kaki meninggalkan permukaan.

Efektivitas SSC juga dipengaruhi oleh kekuatan otot, koordinasi gerakan, dan kemampuan mengendalikan pendaratan.

Karena itu, seseorang tidak otomatis memiliki kemampuan SSC yang lebih baik hanya dengan melakukan lompatan lebih cepat atau lebih tinggi.

Mengenal Electromechanical Delay (EMD)

Electromechanical delay (EMD) adalah jeda waktu antara aktivasi listrik pada otot dan munculnya respons mekanis berupa gaya. Artinya, ketika sistem saraf mengaktifkan otot, gaya tidak langsung diteruskan ke tulang dan menghasilkan gerakan pada saat yang sama.

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap EMD adalah sifat elastis jaringan otot-tendon. Sebelum gaya yang dihasilkan otot diteruskan secara efektif, jaringan tersebut perlu mengalami tegangan yang cukup untuk mengurangi kelonggaran awal pada tendon.

Dalam gerakan eksplosif, jeda ini menjadi penting karena waktu untuk menghasilkan gaya relatif terbatas. Jika tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun tegangan, kemampuan menghasilkan gaya secara cepat dapat terpengaruh.

Latihan yang mengembangkan kekuatan, koordinasi, dan kesiapan otot dapat membantu meningkatkan kemampuan tubuh dalam melakukan gerakan eksplosif. Latihan pliometrik, seperti lompatan terkontrol, sering digunakan untuk melatih SSC, tetapi perlu disesuaikan dengan tingkat kebugaran dan kemampuan teknik.

Bagaimana Cara Melatih Stretch Shortening Cycle?

Latihan pliometrik merupakan salah satu pendekatan untuk melatih kemampuan tubuh memanfaatkan SSC. Contohnya meliputi squat jump, countermovement jump, dan lompatan berulang dengan pendaratan yang terkontrol.

Mulailah dengan gerakan sederhana dan utamakan teknik sebelum meningkatkan kecepatan, ketinggian lompatan, atau intensitas latihan.

Pemanasan yang sesuai, kekuatan dasar yang memadai, dan waktu pemulihan juga penting agar tubuh mampu menghadapi tuntutan latihan.

Jika kamu masih pemula, hindari langsung mencoba lompatan dari ketinggian atau latihan berintensitas tinggi tanpa pendampingan yang sesuai. Tingkatkan beban latihan secara bertahap dan hentikan latihan jika muncul nyeri yang tidak biasa.

Yuk, bergabung dengan FIT HUB! Dapatkan beragam benefit gym premium dengan harga terjangkau sekarang juga.

Blog Terkait

Layanan Pengaduan Konsumen