Key Takeaways:
- Zona denyut jantung membantu mengukur intensitas latihan sehingga kamu dapat berolahraga lebih efektif dan sesuai tujuan.
- Meski sering dikaitkan dengan kardio, memahami zona denyut jantung juga bermanfaat saat menjalani latihan beban.
- Target zona denyut jantung dipengaruhi oleh usia, tingkat kebugaran, jenis latihan, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Pernah melihat angka detak jantung di smartwatch saat sedang gym? Banyak orang hanya memperhatikan jumlah kalori yang terbakar, padahal zona denyut jantung juga memberikan informasi penting tentang seberapa keras tubuh bekerja selama berolahraga.
Konsep ini memang lebih sering digunakan pada olahraga kardio seperti lari atau bersepeda. Namun, bagi kamu yang rutin melakukan latihan beban, memahami zona denyut jantung juga dapat membantu mengatur intensitas latihan, memantau pemulihan, hingga mengevaluasi perkembangan kebugaran.
Lalu, apa sebenarnya zona denyut jantung dan bagaimana kaitannya dengan latihan beban?
Apa Itu Zona Denyut Jantung?
Zona denyut jantung adalah rentang detak jantung yang menunjukkan tingkat intensitas aktivitas fisik berdasarkan persentase dari denyut jantung maksimal (maximum heart rate atau HR max), seperti dilansir Cleveland Clinic.
Semakin tinggi intensitas latihan, semakin cepat jantung berdetak untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi ke otot yang sedang bekerja.
Dengan mengetahui zona denyut jantung, kamu bisa menyesuaikan intensitas olahraga sesuai tujuan, misalnya meningkatkan daya tahan, menjaga kesehatan jantung, atau meningkatkan performa latihan.
Perlu dipahami bahwa angka detak jantung setiap orang berbeda. Dua orang dengan usia yang sama bisa memiliki respons detak jantung yang tidak persis sama karena dipengaruhi berbagai faktor seperti tingkat kebugaran, kondisi kesehatan, dan jenis aktivitas yang dilakukan.

Temukan inspirasi sehatmu dan wujudkan dengan latihan di FIT HUB!
Klaim Gratis Free Trial 7 HariTiga Jenis Denyut Jantung yang Perlu Diketahui
Sebelum memahami zona latihan, ada tiga istilah penting yang sering digunakan dalam dunia kebugaran.
1. Resting Heart Rate (RHR)
Resting Heart Rate atau detak jantung saat istirahat adalah jumlah denyut jantung per menit ketika tubuh benar-benar dalam kondisi rileks.
Biasanya, RHR diukur pada pagi hari setelah bangun tidur sebelum melakukan aktivitas apa pun.
Pada orang dewasa, resting heart rate umumnya berada di kisaran 60-100 denyut per menit (bpm). Atlet atau orang yang sangat bugar sering memiliki RHR yang lebih rendah karena jantung mereka bekerja lebih efisien.
Memantau RHR secara rutin juga dapat membantu melihat perubahan kondisi tubuh. Misalnya, peningkatan RHR selama beberapa hari bisa menjadi tanda tubuh sedang kelelahan, kurang tidur, atau belum pulih sepenuhnya setelah latihan.
2. Recovery Heart Rate
Recovery Heart Rate adalah seberapa cepat detak jantung kembali turun setelah selesai berolahraga.
Semakin cepat denyut jantung kembali mendekati kondisi normal, umumnya menunjukkan sistem kardiovaskular memiliki kemampuan pemulihan yang baik.
Sebaliknya, jika detak jantung tetap tinggi dalam waktu lama setelah latihan, bisa jadi tubuh masih membutuhkan waktu recovery lebih banyak atau intensitas latihan sebelumnya terlalu berat.
Banyak smartwatch kini dapat mengukur recovery heart rate secara otomatis setelah aktivitas selesai.
3. Maximum Heart Rate (HR Max)
Maximum Heart Rate adalah perkiraan jumlah denyut jantung tertinggi yang dapat dicapai saat melakukan aktivitas fisik maksimal.
Rumus yang paling sering digunakan adalah:
HR Max = 220 - usia
Sebagai contoh, seseorang berusia 30 tahun memiliki perkiraan HR max sebesar:
220 - 30 = 190 bpm
Perlu diingat, angka ini hanyalah perkiraan. Nilai sebenarnya dapat berbeda pada setiap individu.
Rentang Target Zona Denyut Jantung
Zona denyut jantung biasanya dibagi menjadi beberapa tingkat berdasarkan persentase dari HR max.
Zona 1 Persentase HR Max : 50-60% Intensitas : Sangat Ringan Tujuan Utama : Pemanasan, pendinginan, dan recovery aktif.
Zona 2 Persentase HR Max : 60-70% Intensitas : Ringan Tujuan Utama : Meningkatkan daya tahan aerobik dan membangun fondasi kebugaran.
Zona 3 Persentase HR Max : 70-80% Intensitas : Sedang Tujuan Utama : Meningkatkan kapasitas aerobik dan kebugaran secara keseluruhan.
Zona 4 Persentase HR Max : 80-90% Intensitas : Tinggi Tujuan Utama : Meningkatkan performa, kecepatan, dan toleransi terhadap latihan intens.
Zona 5 Persentase HR Max : 90-100% Intensitas : Sangat Tinggi Tujuan Utama : Digunakan untuk latihan maksimal dalam durasi singkat, umumnya pada atlet atau sesi interval intensitas tinggi.
Perlu diingat bahwa pembagian zona denyut jantung ini merupakan panduan umum. Respons detak jantung setiap orang dapat berbeda tergantung usia, tingkat kebugaran, kondisi kesehatan, obat-obatan yang dikonsumsi, serta jenis olahraga yang dilakukan.
Oleh karena itu, gunakan zona denyut jantung sebagai acuan untuk menyesuaikan intensitas latihan, bukan sebagai angka yang harus dicapai secara mutlak.
Cara Menghitung Zona Latihan dan Intensitasnya
Langkah pertama adalah menghitung perkiraan HR max. Sebagai contoh, jika usia kamu 30 tahun:
220 - 30 = 190 bpm
Selanjutnya, kalikan angka tersebut dengan persentase zona yang ingin dicapai. Sebagai contoh:
- Zona 2 (60-70%) = sekitar 114-133 bpm
- Zona 3 (70-80%) = sekitar 133-152 bpm
- Zona 4 (80-90%) = sekitar 152-171 bpm
Saat ini, banyak smartwatch atau fitness tracker juga dapat menghitung zona denyut jantung secara otomatis sehingga kamu tidak perlu menghitungnya secara manual.
Faktor yang Memengaruhi Detak Jantung
Detak jantung saat berolahraga tidak hanya dipengaruhi oleh intensitas latihan. Mengutip Harvard, beberapa faktor lain juga dapat menyebabkan denyut jantung meningkat atau menurun, antara lain:
1. Usia
Semakin bertambah usia, perkiraan denyut jantung maksimal umumnya akan menurun.
2. Tingkat kebugaran
Orang yang rutin berolahraga biasanya memiliki detak jantung istirahat yang lebih rendah dan pemulihan yang lebih cepat.
3. Suhu dan kelembapan
Berolahraga di lingkungan yang panas membuat jantung bekerja lebih keras untuk membantu mengatur suhu tubuh.
4. Kurang tidur
Tidur yang tidak cukup dapat meningkatkan resting heart rate dan membuat tubuh terasa lebih cepat lelah saat latihan.
5. Stres
Kondisi emosional juga dapat memengaruhi detak jantung karena peningkatan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.
6. Kafein dan obat tertentu
Minuman berkafein maupun beberapa jenis obat dapat meningkatkan denyut jantung pada sebagian orang.



